MAKALAH METODOLOGI
PENELITIAN
METODE
ILMIAH
BIDANG KONSENTRASI:
BUDIDAYA PERAIRAN
Disusun Oleh :
Cecep Nugraha
Muhammad Arsyad
KEMENTRIAN
PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
POLITEKNIK NEGERI
JEMBER
2012
I.
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Akal budi dan
sifat ingin tahu manusia, memampukan dan mendorongnya untuk melakukan
penelitian: mengkaji fenomena yang terjadi di sekitarnya, melakukan
pertimbangan, mengambil keputusan/kesimpulan dan melakukan evaluasi. Seperti yang kita ketahui bahwa
ilmu di dapat dari kumpulan pengetahuan-pengetahuan sedangkan pengetahuan di
dapat dari sesuatu yang diketahui langsung dari pengalaman, berdasarkan
pancaindra, dan diolah oleh akal budi secara spontan. Pada intinya, pengetahuan
bersifat spontan, subjektif dan intuitif. Pengetahuan dapat dibedakan menjadi
pengetahuan non-ilmiah dan pengetahuan pra-ilmiah. Pengetahuan non-ilmiah
adalah hasil serapan indra terhadap pengalaman hidup sehari-hari yang tidak
perlu dan tidak mungkin diuji kebenarannya. Sedangkan pengetahuan pra-ilmiah
adalah hasil serapan indra dan pemikiran rasional yang terbuka terhadap
pengujian lebih lanjut menggunakan metode-metode ilmiah.
Ilmu
(sains) berasal dari Bahasa Latin scientia yang berarti knowledge. Ilmu
dipahami sebagai proses penyelidikan yang berdisiplin. Ilmu bertujuan untuk
meramalkan dan memahami gejala-gejala alam. Ilmu pengetahuan ialah pengetahuan
yang telah diolah kembali dan disusun secara metodis, sistematis, konsisten dan
koheren. Agar pengetahuan menjadi ilmu, maka pengetahuan tadi harus dipilah
(menjadi suatu bidang tertentu dari kenyataan) dan disusun secara metodis,
sistematis serta konsisten. Tujuannya agar pengalaman tadi bisa diungkapkan
kembali secara lebih jelas, rinci dan setepat-tepatnya.
Metodis, berarti dalam proses menemukan dan mengolah pengetahuan menggunakan metode tertentu, tidak serampangan. Sistematis, berarti dalam usaha menemukan kebenaran dan menjabarkan pengetahuan yang diperoleh, menggunakan langkah-langkah tertentu yang teratur dan terarah sehingga menjadi suatu keseluruhan yang terpadu. Koheren, berarti setiap bagian dari jabaran ilmu pengetahuan itu merupakan rangkaian yang saling terkait dan berkesesuaian (konsisten). Sedangkan suatu usaha untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan disebut penelitian (research).
Metodis, berarti dalam proses menemukan dan mengolah pengetahuan menggunakan metode tertentu, tidak serampangan. Sistematis, berarti dalam usaha menemukan kebenaran dan menjabarkan pengetahuan yang diperoleh, menggunakan langkah-langkah tertentu yang teratur dan terarah sehingga menjadi suatu keseluruhan yang terpadu. Koheren, berarti setiap bagian dari jabaran ilmu pengetahuan itu merupakan rangkaian yang saling terkait dan berkesesuaian (konsisten). Sedangkan suatu usaha untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan disebut penelitian (research).
Metode
ilmiah boleh dikatakan suatu pengejaran terhadap kebenaran yang diatur oleh
pertimbangan-pertimbangan logis. Karena ideal dari ilmu adalah untuk memperoleh
interelasi yang sistematis dari fakta-fakta, maka metode ilmiah berkehendak
untuk mencari jawaban tentang fakta-fakta dengan menggunakan pendekatan
kesangsian sistematis. Karena itu, penelitian dan metode ilmiah mempunyai
hubungan yang dekat sekali, jika tidak dikatakan sama.
Dengan
adanya metode ilmiah, pertanyaan-pertanyaan dalam mencari dalil umum akan mudah
terjawab, seperti menjawab seberapa jauh, mengapa begitu, apakah benar, dan
sebagainya.
1.2 Tujuan
Mahasiswa diharapkan mampu:
1)
Mengetahui
apa yang dimaksud dengan metode ilmiah
2)
Mengetahui
cara pengembangan berpikir dalam metode ilmiah
3)
Mengetahui
etika ilmiah yang terdapat dalam metode ilmiah
1.3 Manfaat
1)
Dapat
mengetahui pengertian dari metode ilmiah
2)
Dapat
mengetahui cara pengembangan
berpikir dalam metode ilmiah
3) Dapat mengetahui etika
ilmiah yang terdapat dalam
metode ilmiah
II. PEMBAHASAN
2.1 Metode Ilmiah
Menurut
Almack (1939), metode ilmiah adalah cara menerapkan prinsip-prinsip logis
terhadap penemuan, pengesahan dan penjelasan kebenaran. Sedangkan Ostle (1975)
berpendapat bahwa metode ilmiah adalah pengejaran terhadap sesuatu untuk
memperoleh sesuatu interelasi.
Metode
ilmiah pertama kali diperkenalkan oleh Jhon Dewey yang artinya metode ilmiah
adalah perpaduan proses atau pola berpikir deduktif – induktif guna untuk
memecahkan suatu masalah. Pola berpikir dalam metode ilmiah yaitu pola berpikir
Induktif adalah pengambilan kesimpulan
dari kasus yang bersifat khusus menjadi kesimpulan yang bersifat umum.
Penalaran secara induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan
yang mempunyai ruang lingkup terbatas dalam menyusun argumentasi dan terkait
dengan empirisme. Sedangkan pola berpikir dari deduktif adalah pengambilan
kesimpulan dari hal yang bersifat umum menjadi kasus yang bersifat khusus.
Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola pikir silogismus dan terkait dengan rasionalisme.
2.1.1 Definisi Metode Ilmiah
Metode
ilmiah berasal dari dua kata yaitu metode dan ilmiah. Metode merupakan prosedur
atau cara seseorang dalam melakukan suatu kegiatan untuk mempermudah memecahkan
masalah secara teratur, sistematis, dan terkontrol. Ilmiah adalah sesuatu
keilmuan untuk mendapatkan pengetahuan secara alami berdasarkan bukti fisis.
Jadi, bila kita menjabarkan lebih luas dari metode
ilmiah adalah suatu proses atau cara keilmuan dalam melakukan proses ilmiah
(science project) untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis berdasarkan
bukti fisis. Cara untuk memperoleh
pengetahuan atau kebenaran pada metode ilmiah haruslah diatur oleh
pertimbangan-pertimbangan yang logis (McCleary, 1998). Ilmu pengetahuan
seringkali berhubungan dengan fakta, maka cara mendapatkannya, jawaban-jawaban
dari semua pertanyaan yang ada pun harus secara sistematis berdasarkan
fakta-fakta yang ada.
Hubungan
antara penelitian dan metode ilmiah adalah sangat erat atau bahkan tak
terpisahkan satu dengan lainnya. Intinya bahwa metode ilmiah adalah cara
menerapkan prinsip-prinsip logis terhadap penemuan, pengesahan dan penjelasan
kebenaran.
Dengan adanya
metode ilmiah ini pertanyaan-pertanyaan dasar dalam mencari kebenaran seperti
apakah yang dimaksud, apakah benar demikian, mengapa begini/begitu, seberapa
jauh, bagaimana hal tersebut terjadi dan sebagainya, akan lebih mudah terjawab.
Ø
Metode Ilmiah memiliki
ciri-ciri keilmuan, yaitu :
1.
Rasional: sesuatu yang masuk akal dan
terjangkau oleh penalaran manusia.
2.
Empiris: menggunakan cara-cara tertentu
yang dapat diamati dengan menggunakan panca indera.
3.
Sistematis: menggunakan proses
dengan langkah-langkah logis.
Ø
Sifat Metode Ilmiah :
1.
Efisien dalam penggunaan sumber
daya (tenaga, biaya, waktu).
2.
Terbuka (dapat dipakai oleh
siapa saja).
3.
Teruji (prosedurnya logis dalam
memperoleh keputusan).
2.1.2 Syarat-syarat Metode Ilmiah
1.
Obyektif, artinya pengetahuan
itu sesuai dengan objeknya atau didukung metodik fakta empiris.
2.
Metodik, artinya pengetahuan
ilmiah diperoleh dengan menggunakan cara-cara tertentu yang teratur dan
terkontrol.
3.
Sistematik, artinya pengetahuan
ilmiah itu tersusun dalam suatu sistem, tidak berdiri sendiri, satu dengan yang lain saling berkaitan.
4.
Universal, artinya pengetahuan
tidak hanya berlaku atau dapat diamati oleh seseorang atau beberapa orang saja tetapi semua orang melalui
eksperimentasi yang sama akan memperoleh
hasil yang sama.
2.1.3
Kegunaan
Metode Ilmiah
Dengan
adanya sikap dan metode ilmiah akan menghasilkan penemuan-penemuan yang
berkualitas tinggi dan dapat membantu meningkatkan kesejahteraan manusia.
Beberapa kegunaan metode ilmiah dalam kehidupan manusia antara lain :
1.
Membantu
memecahkan permasalahan dengan penalaran dan pembuktian yang memuaskan.
2.
Menguji
hasil penelitian orang lain sehingga diperoleh kebenaran yang objektif.
3. Memecahkan atau menemukan jawaban
rahasia alam yang sebelumnya masih teka teki.
2.1.4 Kriteria Metode Ilmiah
Supaya
suatu metode yang digunakan dalam penelitian disebut metode ilmiah, maka metode
tersebut harus mempunyai kriteria sebagai berikut:
1.
Berdasarkan
Fakta
Keterangan-keterangan
yang ingin diperoleh dalam penelitian, baik yang akan dikumpulkan dan yang
dianalisa haruslah berdasarkan fakta-fakta yang nyata. Janganlah penemuan atau
pembuktian didasarkan pada daya khayal, kira-kira, legenda-legenda atau
kegiatan sejenis.
2.
Bebas
dari Prasangka
Metode ilmiah
harus mempunyai sifat bebas prasangka, bersih dan jauh dari pertimbangan
subjektif. Menggunakan suatu fakta haruslah dengan alasan dan bukti yang
lengkap dan dengan pembuktian yang objektif. Apabila hasil dari suatu
penelitian, misalnya, menunjukan bahwa ada ketidak sesuaian dengan hipotesis,
maka kesimpulan yang diambil haruslah merujuk kepada hasil tersebut, meskipun
katakanlah, hal tersebut tidak disukai oleh pihak pemberi dana.
3.
Menggunakan
Prinsip Analisa
Dalam memahami
serta memberi arti terhadap fenomena yang kompleks, harus digunakan prinsip
analisa. Semua masalah harus dicari sebab-musabab serta pemecahannya dengan menggunakan
analisa yang logis. Fakta yang mendukung tidaklah dibiarkan sebagaimana adanya
atau hanya dibuat deskripsinya saja. Tetapi semua kejadian harus dicari sebab-akibat
dengan menggunakan analisa yang tajam.
4.
Menggunakan
Hipotesa
Dalam metode
ilmiah, peneliti harus dituntun dalam proses berpikir dengan menggunakan
analisa. Hipotesa harus ada untuk mengonggokkan persoalan serta memadu jalan
pikiran ke arah tujuan yang ingin dicapai sehingga hasil yang ingin diperoleh
akan mengenai sasaran dengan tepat. Hipotesa merupakan pegangan yang khas dalam
menuntun jalan pikiran peneliti.
5.
Menggunakan
Ukuran Obyektif
Seorang peneliti
harus selalu bersikap objektif dalam mencari kebenaran. Semua data dan fakta
yang tersaji harus disajikan dan dianalisis secara objektif. Pertimbangan dan
penarikan kesimpulan harus menggunakan pikiran yang jernih dan tidak
berdasarkan perasaan.
6.
Menggunakan
Teknik Kuantifikasi
Dalam
memperlakukan data ukuran kuantitatif yang lazim harus digunakan, kecuali untuk
artibut-artibut yang tidak dapat dikuantifikasikan. Ukuran-ukuran seperti ton,
mm, per detik, ohm, kilogram, dan sebagainya harus selalu digunakan. Jauhi
ukuran-ukuran seperti: sejauh mata memandang, sehitam aspal, sejauh sebatang
rokok, dan sebagainya. Kuantifikasi yang termudah adalah dengan menggunakan
ukuran nominal, ranking dan rating.
2.1.5 Langkah-langkah Metode Ilmiah
1.
Perumusan masalah
Proses kegiatan ilmiah dimulai ketika
kita tertarik pada sesuatu hal. Ketertarikan ini karena manusia memiliki sifat
perhatian. Pada saat kita tertarik pada sesuatu, sering timbul pertanyaan dalam pikiran kita. Perumusan masalah
merupakan langkah untuk mengetahui masalah yang akan dipecahkan sehingga
masalah tersebut menjadi jelas batasan, kedudukan, dan alternatif cara untuk
memecahkan masalah tersebut. Perumusan masalah juga berarti pertanyaan mengenai
suatu objek serta dapat diketahui faktor-faktor yang berhubungan dengan objek tersebut. Masalah
yang ditemukan diformulasikan dalam
sebuah rumusan masalah, dan umumnya rumusan masalah disusun dalam bentuk pertanyaan.
2.
Pembuatan kerangka berfikir
Pembuatan kerangka berfikir merupakan
argumentasi yang menjelaskan hubungan antar berbagai faktor yang berkaitan
dengan objek dan dapat menjawab permasalahan. Pembuatan
kerangka berfikir menggunakan pola berfikir logis, analitis, dan sintesis atas
keterangan-keterangan yang diperoleh dari berbagai sumber informasi. Hal itu diperoleh dari wawancara dengan pakar atau
dengan pengamatan langsung.
3.
Penarikan hipotesis
Hipotesis merupakan dugaan atau
jawaban sementara terhadap suatu permasalahan. Penyusunan hipotesis dapat
berdasarkan hasil penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan oleh orang lain. Dalam
penelitian, setiap orang berhak menyusun hipotesis. Masalah yang
dirumuskan harus relevan dengan hipotesis yang diajukan. Hipotesis digali dari
penelusuran referensi teoretis dan mengkaji hasil-hasil penelitian sebelumnya.
4.
Pengujian Hipotesis/eksperiment
Pengujian hipotesis dilakukan dengan
cara menganalisis data. Data dapat diperoleh dengan berbagai cara, salah
satunya melalui percobaan atau eksperimen. Percobaan yang dilakukan akan
menghasilkan data berupa angka untuk memudahkan dalam penarikan kesimpulan. Pengujian
hipotesis juga berarti mengumpulkan bukti-bukti
yang relevan dengan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah
terdapat bukti-bukti yang mendukung
hipotesis.
5.
Penarikan kesimpulan
Penarikan kesimpulan merupakan
penilaian apakah sebuah hipotesis yang diajukan itu ditolak atau diterima. Hipotesis yang diterima dianggap
sebagai bagian dari pengetahuan ilmiah,
sebab telah memenuhi persyaratan keilmuan. Syarat keilmuan yakni mempunyai kerangka penjelasan yang
konsisten dengan pengetahuan ilmiah sebelumnya serta telah teruji
kebenarannya. Melalui kesimpulan maka akan terjawab rumusan masalah dan
hipotesis yang diajukan dapat dibuktikan kebenarannya.
2.1.6 Simpulan
Simpulan metode ilmiah sebagai wahana
peneguh ilmu pengetahuan, dengan cara:
1.
Mengadakan deskripsi,
menggambarkan secara jelas dan cermat hal-hal yang dipersoalkan.
2.
Menerangkan/Eksplanasi,
menerangkan kondisi-kondisi yang mendasari terjadinya peristiwa
peristiwa/gejala.
3.
Menyusun Teori, mencari dan
merumuskan hukum-hukum mengenai hubungan antara kondisi yang satu dengan yang
lain atau hubungan peristiwa yang satu dengan yang lain.
4.
Membuat Prediksi/Peramalan,
membuat ramalan, estimasi dan proyeksi mengenai peristiwa-peristiwa yang bakal
terjadi atau gejala-gejala yang akan muncul.
5.
Melakukan
Pengendalian, melakukan tindakan guna mengendalikan peristiwa-peristiwa atau gejala-gejala.
2.1.7 Teori Kebenaran Ilmiah
1.
Teori koherensi : pernyataan
dianggap benar jika pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten
dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Misalnya :
setiap manusia akan mati, maka si
Fulan pasti akan
mati.
2.
Teori korespondensi :
pernyataan dianggap benar jika materi pengetahuan yang dikandung itu
berkorespondensi (berhubungan) dengan objek yang dituju oleh pernyataan
tersebut. Misalnya Ibu kota Indonesia adalah Jakarta, dan memang faktanya ibukota
Indonesia adalah Jakarta.
3.
Teori pragmatis, ialah
kebenaran suatu pernyataan diukur dengan criteria apakah pernyataan itu bersifat
fungsional dalam kehidupan praktis atau memiliki kegunaan dalam kehidupan
manusia.
2.2 Cara Pengembangan
Berpikir Ilmiah
Manusia mampu
mengembangkan ilmu pengetahuan karena mempunyai kemampuan berfikir menurut
suatu alur kerangka berfikir tertentu. Cara berfikir seperti itu disebut
penalaran (reasoning). Sebagai suatu kegiatan berpikir maka penalaran mempunyai
ciri-ciri, yaitu logis dan analitis (Suriasumantri, 1996). Berfikir secara
logis dan analitis ini merupakan proses berfikir ilmiah. Penalaran ilmiah pada
hakikatnya merupakan gabungan dari
dua cara penalaran, yaitu:
1)
Deduksi
Penalaran deduktif terkait dengan
rasionalisme, yaitu faham bahwa rasio atau pemikiran adalah sumber kebenaran.
Deduksi adalah cara berfikir dengan menarik kesimpulan khusus dari
pernyataan-pernyaatan yang besifat umum; atau dari umum ke khusus.
Pernyataan umum tersebut merupakan alasan atau premis yang dijadikan dasar untuk
menarik kesimpulan khusus. Alasan atau premis tersebut merupakan ilmu atau terori
sebelumnya yang sudah diakui kebenarannya. Dalam metode ilmiah berfikir deduktif
ini digunakan pada saat penyusunan hipotesis. Hipotesis disusun secara deduktif
dari teori-teori yang disusun secara jelas, logis, dan sistematis sehingga
menjadi kerangka pemikiran.
2)
Induksi
Induksi
merupakan cara berfikir dimana ditarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari
berbagai kasus yang bersifat individual; atau dari khusus ke umum.
Memang tidak ada keterkaitan erat antara alasan dan kesimpulan yang kuat
seperti dalam deduksi. Penalaran induktif terkait dengan empirisme, yaitu faham
bahwa pengalaman manusia merupakan sumber kebenaran. Dalam metode ilmiah
berfikir induktif ini digunakan dalam pembuktian hipotesis. Berdasarkan satu
atau lebih fakta atau kejadian yang ditemukan, kita menarik kesimpulan bahwa
fakta atau kejadian tersebut juga berlaku umum. Sebagai ilustrasi, jika kita
menemukan satu atau beberapa barang yang dijual sebuah toko ternyata rusak maka
kita menyimpulkan bahwa seluruh barang di toko tersebut yang diproduksi sebuah
perusahaan sudah kadaluarsa. Proses penarikan secara induktif ini dalam
prakteknya menggunakan analisis statitik melalui berbagai teknik analisis yang
termasuk statistika inferensial.
2.2.1 Sarana Berpikir Ilmiah
Kita
memerlukan sarana berfikir ilmiah untuk melakukan kegiatan ilmiah secara baik. Sarana ilmiah pada dasarnya
merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuh. Seorang peneliti harus bisa
menguasai sarana ini agar bisa
melaksanakan penelaahan ilmiah secara teratur dan cermat. Tanpa mengusainya, kegiatan ilmiah yang baik tak dapat
dilakukan. Berbagai sarana berfikir ilmiah tersebut adalah:
1)
Bahasa
Bahasa dalam
kehidupan manusia mempunyai fungsi simbolik, emotif, dan afektif (Kneller di
dalam Suriasumantri, 1996). Fungsi simbolik sangat menonjol dalam komunikasi
ilmiah. Bahasa diperlukan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan terutama dalam
hal mengkomunikasikan hasil penelitian. Komunikasi ilmiah tersebut harus
bersifat reproduktif, artinya informasi yang dikomunikasikan peniliti harus
sama dengan informasi yang diterima pihak lain. Hal ini bisa dicapai jika
bahasa yang digunakan adalah jelas (eksplisit) dan objektif sehingga tidak
terjadi kesalahan pemahaman atau interpretasi.
2)
Logika
Merujuk pada kamus besar bahasa Indonesia (2002:680) logika adalah
jalan pikiran yang masuk akal. Sedangkan dari segi istilah logika sering
diartikan sebagai kumpulan kaidah-kaidah yang memberi jalan (system) berfikir
tertib dan teratur sehingga kebenarannya dapat diterima orang lain (Cecep
Sumarna, 2008:141). Dalam arti luas logika adalah sebuah metode dan
prinsip-prinsip yang dapat memisahkan secara tegas antara penalaran yang benar
dengan penalaran yang salah (Yahya S. Kusumah, 1986).
Logika membicarakan tentang aturan-aturan berfikir agar dengan
aturan-aturan tersebut dapat mengambil kesimpulan yang benar. Logika bukan ilmu
yang baru muncul
3)
Matematika
Matematika
adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin
kita sampaikan. Lambang-lambang matematika bersifat artifisial yang baru
mempunyai arti setelah sebuah makna diberikan padanya. Misal, variabel harga
barang dilambangkan dengan P, jumlah barang dengan Q, dan sebagainya. Pemberian
makna melalui simbol-simbol tersebut akan dibahas dalam pengukuran variabel dan
teknik penskalaan di bab-bab selanjutnya. Yang terpenting, matematika digunakan
untuk menghilangkan sifat kabur, majemuk, dan emotif dari bahasa verbal.
4)
Statistika
Pengujian secara
empiris meruapakan salah satu mata rantai dalam metode ilmiah. Pengujian
tersebut merupakan suatu proses pengumpulan fakta yang relevan dengan hipotesis
yang akan dibuktikan kebenarannya. Disinilah peranan statistika yaitu dalam
proses induksi. Statistika memberikan cara untuk dapat menarik kesimpulan yang
bersifat umum dengan jalan mengamati hanya sebagian dari populasi sasaran. Jadi
statistika adalah sarana untuk melakukan induksi.
2.3
Etika Ilmiah
Etika secara etimologi berasal dari
kata Yunani, yakni ethos yang berarti watak kesusilaan atau adat. Secara
terminologi, etika adalah cabang filsafat yang membicarakan tingkah laku atau
perbuatan manusia dalam hubungannya dengan baik buruk. Sedangkan
pengertian lainnya lagi, etika adalah ilmu yang membahas perbuatan baik dan
perbuatan manusia sejauh yang dapat dipahami oleh pikiran manusia. Dalam
bahasa Indonesia kedua-duanya diterjemahkan dengan kesusilaan. Etika
disebut pula akhlak atau disebut pula moral. Yang dapat dinilai baik buruk
adalah sikap manusia, yaitu yang menyangkut perbuatan, tingkah laku, gerakan,
kata-kata, dan sebaginya. Adapun motif, watak, dan suara hati sulit untuk
dinilai. Tingkah laku yang dikerjakan dengan tidak sadar tidak dapat dinilai
baik buruknya. Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah,
baik, buruk, dan tanggung jawab. Sedangkan yang dimaksud ilmiah yaitu
bersifat ilmu; secara ilmu pengetahuan; memenuhi syarat (kaidah) ilmu
pengetahuan. Dalam kamus ilmiah popular, ilmiah berarti keilmuan, ilmu
pengetahuan, sains.
Jadi etika ilmiah itu dapat disimpulkan sebagai sikap seorang ilmuwan
dalam mempertanggung jawabkan hasil penelitiannya dalam hal ilmu pengetahuan,
yang mana di dalamnya terdapat aturan-aturan (etika) dari penelitian tersebut. Diperlukan
etika ilmiah untuk membatasi pengaruh buruk ilmu pengetahuan dan teknologi
terhadap manusia. Etika ilmiah yang umum meliputi ilmu pengetahuan yang murni
maupun yang dipakai serta etika khusus yang merupakan spesialisasi dan profesi.
Etika ilmiah merupakan sebagian dari fungsi ilmu pengetahuan, sehingga karena
pembagian tugas dan fungsi antara berbagai disiplin dan profesi inilah etika
juga terbagi- bagi.
Etika ilmiah akan melandasi setiap kegiatan “responsible
scientific inquiries” atau penerawangan ke alam pencarian ilmu pengetahuan
yang bertanggung jawab bagi pembangunan kemasyarakatan. Melalui teropong
ilmiahnya seorang saintis adalah pencari kebenaran. Sifat dan sikap yang utama
keberhasilan pencarian kebenaran melalui metoda ilmu pengetahuan ialah
kejujuran. Menurut Shamoo A. and Resnik D. (2003), dalam etika ilmiah yang harus dimiliki seorang
ilmuan adalah sebagai berikut.
1)
Kejujuran
Jujur dalam pengumpulan bahan
pustaka, pengumpulan data, pelaksanaan metode dan prosedur penelitian serta publikasi
hasil. Jujur pada kekurangan atau kegagalan metode yang dilakukan. Hargai rekan
peneliti, jangan mengklaim pekerjaan yang bukan pekerjaan Anda sebagai
pekerjaan Anda.
2)
Obyektivitas
Upayakan minimalisasi
kesalahan/bias dalam rancangan percobaan, analisis dan interpretasi data,
penilaian ahli/rekan peneliti, keputusan pribadi, pengaruh pemberi dana/sponsor
penelitian.
3)
Integritas
Tepati selalu janji dan perjanjian;
lakukan penelitian dengan tulis, upayakan selalu menjaga konsistensi pikiran
dan perbuatan.
4)
Ketelitian
Berlaku teliti dan hindari
kesalahan karena ketidakpedulian; secara teratur catat pekerjaan yang Anda dan
rekan anda kerjakan, misalnya kapan dan di mana pengumpulan data dilakukan.
Catat juga alamat korespondensi responden, jurnal atau agen publikasi lainnya.
5)
Keterbukaan
Secara terbuka, saling berbagi
data, hasil, ide, alat dan sumber daya penelitian. Terbuka terhadap kritik dan
ide-ide baru.
6)
Penghargaan terhadap Hak Atas
Kekayaan Intelektual (HAKI)
Perhatikan paten, copyrights, dan
bentuk hal-hal intelektual lainnya. Jangan gunakan data, metode, atau hasil
yang belum dipublikasi tanpa ijin penelitinya. Tuliskan nara sumber semua yang
memberikan kontribusi pada riset Anda. Jangan pernah melakukan plagiasi.
7)
Penghargaan terhadap Kerahasiaan
(Responden)
Bila penelitian menyangkut data pribadi,
kesehatan, catatan kriminal atau data lain yang oleh responden dianggap sebagai
rahasia, maka peneliti harus menjaga kerahasiaan data tersebut.
8)
Publikasi yang terpercaya
Hindari mempublikasikan penelitian
yang sama berulang-ulang ke berbagai media (jurnal, seminar).
9)
Pembinaan yang konstruktif
Bantu membimbing, memberi arahan
dan masukan bagi mahasiswa/peneliti pemula. Perkenankan mereka mengembangkan
ide mereka menjadi penelitian yang berkualitas.
10) Penghargaan terhadap Kolega/Rekan Kerja
Hargai dan perlakukan rekan
penelitian Anda dengan semestinya. Bila penelitian dilakukan oleh suatu tim
akan dipublikasikan, maka peneliti dengan kontribusi terbesar ditetapkan
sebagai penulis pertama (first author), sedangkan yang lain menjadi penulis
kedua (co-author(s)). Urutan menunjukkan besarnya kontribusi anggota tim dalam
penelitian.
11) Tanggung Jawab Sosial
Upayakan penelitian Anda berguna
demi kemaslahan masyarakat, meningkatkan taraf hidup, memudahkan kehidupan dan
meringankan beban hidup masyarakat. Anda juga bertanggung jawab melakukan
pendampingan bagi masyarakat yang ingin mengaplikasikan hasil penelitian Anda.
12) Tidak melakukan Diskriminasi
Hindari melakukan pembedaan
perlakuan pada rekan kerja atau mahasiswa karena alasan jenis kelamin, ras,
suku, dan faktor-faktor lain yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan
kompetensi dan integritas ilmiah.
13) Kompetensi
Tingkatkan kemampuan dan keahlian
meneliti melalui pendidikan dan pembelajaran seumur hidup; secara bertahap
tingkatkan kompetensi Anda sampai taraf Pakar.
14) Legalitas
Pahami dan patuhi peraturan
institusional dan kebijakan pemeintah yang terkait dengan penelitian Anda.
15) Rancang pengujian pada hewan percobaan dengan
baik
Bila penelitian memerlukan hewan
percobaan, maka percobaan harus dirancang sebaik mungkin, tidak dengan gegabah
melakukan sembarang perlakuan pada hewan percobaan.
16) Mengutamakan keselamatan Manusia
Bila harus mengunakan manusia untuk
menguji penelitian, maka penelitian harus dirancang dengan teliti, efek negatif
harus diminimalkan, manfaat dimaksimalkan; hormati harkat kemanusiaan, privasi
dan hak obyek penelitian Anda tersebut; siapkan pencegahan dan pengobatan bila
sampel Anda menderita efek negatif penelitian.
III.
KESIMPULAN
Dari makalah
tersebut dapat disimpulkan bahwa metode ilmiah merupakan suatu proses atau cara keilmuan
dalam melakukan proses ilmiah (science project) untuk memperoleh pengetahuan
secara sistematis berdasarkan bukti fisis. Kriteria yang termasuk ke dalam metode
ilmiah adalah harus berdasarkan fakta, bebas
dari prasangka, penggunaan prinsip analisa, menggunakan
hipotesa, menggunakan
ukuran objektif, dan menggunakan teknik kuantifikasi. Adapun langkah-langkah dalam membuat metode ilmiah
yaitu dengan adanya perumusan masalah, pembuatan kerangka
berfikir, penarikan hipotesis, pengujian hipotesis/eksperiment, dan penarikan kesimpulan
dari eksperimen.
Berfikir ilmiah merupakan berfikir dengan langkah-langkah metode
ilmiah seperti perumusan masalah, pengajuan hipotesis, pengkajian literatur,
menguji hipotesis dan menarik kesimpulan. Adapun sarana berfikir ilmiah yang baik adalah bahasa, logika, matematika dan statistika. Sarana berfikir ilmiah digunakan sebagai alat untuk
mengembangkan materi pengetahuan berdasarkan metode-metode ilmiah, dan sarana
berfikir ilmiah berfungsi untuk membantu proses metode ilmiah, baik secara
deduktif maupun secara induktif. Deduksi adalah cara
berfikir dengan menarik kesimpulan khusus dari pernyataan-pernyaatan yang
besifat umum atau dari umum ke khusus. Sedangkan induksi merupakan
cara berfikir dimana ditarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus
yang bersifat individual atau
dari khusus
ke umum.
Etika ilmiah merupakan sikap seorang ilmuwan dalam mempertanggung
jawabkan hasil penelitiannya dalam hal ilmu pengetahuan, yang mana di dalamnya
terdapat aturan-aturan (etika) dari penelitian tersebut. Diperlukan etika ilmiah untuk membatasi pengaruh buruk ilmu
pengetahuan dan teknologi terhadap manusia. Etika ilmiah yang umum meliputi
ilmu pengetahuan yang murni maupun yang dipakai serta etika khusus yang
merupakan spesialisasi dan profesi. Etika ilmiah merupakan sebagian dari fungsi
ilmu pengetahuan, sehingga karena pembagian tugas dan fungsi antara berbagai
disiplin dan profesi inilah etika juga terbagi- bagi.
DAFTAR PUSTAKA
Sumarna C. 2005. Rekonstruksi Ilmu. Benang Merah Press, Bandung.
_________. 2008. Filsafat llmu. Mulia
Press, Bandung.
Suriasumantri J. S. 1996. Filsafat llmu Sebuah Pengantar Populer. Pustaka Sinar Harapan, Jakarta.
Shamoo A and Resnik D. 2003. Responsible
Conduct of Research, New York: Oxford University Press.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar